Pola Asuh Tentukan Kecerdasan Emosional


Pola Asuh Tentukan Kecerdasan Emosional

Memahami emosi negatif anak sejak dini, akan mencerdaskan emosi anak/Ist
SARAH, 25, ibu muda satu putra ini hampir setiap hari mengkhawatirkan putranya yang berusia 9 bulan. Dia mengkhawatirkan putranya akan memiliki sifat sepertinya yakni takut salah berbicara dengan orang lain. Padahal, Sarah adalah sosok wanita well educated. Ijazah SMA hingga S-2 didapatkannya di Australia. Namun, kenapa perempuan yang kini tinggal di Kanada tersebut seolah tak percaya diri dan takut salah berbicara dengan orang?

Selama ini perempuan bertubuh langsing dan berparas cantik ini merasa terganggu dengan sikapnya sendiri. Salah satu contohnya dia tak pernah bisa lama bekerja di sebuah perusahaan. Ijazah lulusan luar negeri pun tak membantunya. ”Walaupun bidang yang saya pilih adalah accounting management di mana saya pikir tidak perlu ketemu dan berhubungan dengan banyak orang, ternyata ketika bekerja hal tersebut tidak berlaku karena tetap saja saya harus berhubungan dengan bagian lainnya,” paparnya.

Secara intelektual, Sarah memang pandai, tetapi ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam dirinya yaitu kecerdasan emosinya. Tidak berkembangnya kecerdasan emosi ini tak lain karena pola asuh orangtua terhadap dirinya kurang tepat.

Sebagai anak bungsu, ibunda Sarah selalu menganggap Sarah adalah anak kecil, hingga ia dewasa, ibunya selalu tidak mengizinkan untuk memilih apa yang dia inginkan. Selalu ibunya yang menentukan. Misalnya saja ketika dia akan bepergian ke rumah temannya, ibunya yang menentukan pakaian model dan warna apa yang harus saya pakai.

Selain sikap ibunya, peran ayahnya juga memengaruhi sikapnya. Ayahnya yang seorang dokter gigi terlalu sibuk dan tidak dekat dengan anak-anaknya. Selain itu, ayahnya juga terlampau sering mengoreksi apa yang dilakukan dan dikatakan Sarah. Misalnya saat Sarah menerima telepon. Bila ayahnya mendengar, ia pasti mengkritik jawaban Sarah di telepon. ”Dia selalu bilang, harusnya tadi jawabnya gini, bukan gitu. Itulah yang membuat saya selalu merasa takut salah saat berkomunikasi dengan orang lain,” katanya. Sadar akan akibat pola asuh yang salah terhadap dirinya, Sarah berharap tak ingin mengulangi hal yang sama pada buah hatinya. ”Saya tak ingin anak saya seperti saya,” tandasnya.

Memahami emosi negatif anak merupakan salah satu pola asuh yang sebaiknya dilakukan orangtua. Memahami emosi negatif anak sejak dini, akan mencerdaskan emosi anak. Pada kenyataannya, intelektual saja tak cukup bila tak diimbangi dengan kecerdasan emosi.

Pakar emotional intelligence dari Radani Edutainment, Hanny Muchtar Darta, Certified EI PSYCH-K SET mengatakan bahwa pengaruh pola asuh orangtua mempunyai dampak besar pada kehidupan anak di kemudian hari. Biasanya terjadi ketika anak di bawah lima atau enam tahun dan di bawah 11 tahun.

”Paling berdampak besar yang akan sangat menghambat potensi anak adalah pengaruh pola asuh yang tidak berorientasi pada perkembangan anak,” kata ketua dari Radani Edutainment dan El Center yaitu lembaga yang fokus usaha pada kegiatan yang menstimulasi kecerdasan dan kesehatan anak dan keluarga.

Dikatakan Hanny, semua orangtua mempunyai tujuan yang sangat baik untuk anaknya. Namun, kebanyakan orangtua tidak memahami dampak jangka panjang akibat dari pola asuh yang tidak tepat. Biasanya kejadian yang dialami Sarah adalah orangtua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang sempurna tanpa kesalahan dan segalanya harus baik dan tidak ada cela tanpa adanya pikiran dan perasaan yang mengikuti tindakannya.

”Perlu juga orangtua pahami dengan baik bahwa anak mempunyai keinginan yang sama seperti orang dewasa pada umumnya,” ujar wanita yang mengambil pendidikan di Psychology Kinnesiolgy (PSYCH-K) Anaheim California dan Miami-Florida.

Di mana keinginan tersebut dijelaskan oleh Hanny, misalnya keinginan untuk ditanyakan apa yang sebenarnya yang diinginkannya, keinginan didengar, keinginan untuk dipahami, keinginan untuk dihargai, dan keinginan untuk dilindungi sehingga dia merasa nyaman. ”Semua hal inilah yang akan membuat mereka mampu untuk menggapai segala potensi yang ada pada dirinya karena ketika anakanak merasa nyaman, maka mereka akan dapat berprestasi,” paparnya.

Hanny menjelaskan, karena dalam keadaan nyaman dan aman itulah, maka kedua otak kiri dan otak kanan akan mampu bekerja sama dengan baik dan apa yang mereka dapat bisa dipahami dengan mudah, dapat belajar dengan mudah, dan mampu bekerja sama dengan mudah. ”Ternyata kecerdasan intelektual tanpa diimbangi emosional sangat memengaruhi potensi dan masa depan anak-anak di kemudian hari,” tandas Hanny.

Elizabeth Crary dalam bukunya, Dealing with Disappointment, mengatakan bahwa kebiasaan kebanyakan para orangtua adalah selalu ingin memperbaiki keadaan yang menurutnya tidak baik atau fixing tanpa menanyakan kepada anak apa yang sebenarnya diinginkan dan tanpa memahami perasaan anak.

Seperti yang dialami Sarah, yang seharusnya dia bebas menggunakan pakaian model dan warna apa, karena peran orangtua pada saat anak berusia 9 tahun adalah sebagai coach atau pelatih karena anak sudah mampu untuk berpikir beragam pilihan baiknya.

Di sini orangtua hanya memberikan pendapat atau dukungannya jika anak minta atau hanya memberikan pendapat.

”Seharusnya, ibu bisa mengatakan, ‘menurut kamu yang membuat kamu merasa nyaman yang warna dan model mana nak?’ atau ‘menurut mami, apa pun warna dan model yang kamu pakai, kamu terlihat cantik dan segar’,” ungkap Hanny.

Dengan pendekatan ini, Hanny menyebutkan, akan membuat anak yang sedang merasa bingung diberikan panduan dengan pola asuh yang baik dengan melatih anak untuk mampu membuat keputusan yang baik. ”Tahapan mengidentifikasi atau memahami perasaan atau emosi negatif anak dapat membantu anak untuk membuat keputusan dengan memberikan dukungan secara positif dan mengedepankan keinginan dan perasaan anak,” kata ibu dua anak ini.

Hanny menuturkan, apa pun pilihan anak, harus dihargai dengan baik karena semuanya tidak ada yang salah dan benar, dan hanya ada pilihan yaitu pilihan baik dan pilihan yang lebih baik.

(Koran SI/Koran SI/tty)

sumber http://lifestyle.okezone.com/read/2010/01/07/196/291768/196/pola-asuh-tentukan-kecerdasan-emosional

2 thoughts on “Pola Asuh Tentukan Kecerdasan Emosional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s